Bahlil Ungkap Tantangan Transisi Energi Indonesia Menuju Net Zero 2060

PUTARBALIK.ID, JAKARTA — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan Indonesia tetap berkomitmen menjalankan agenda penurunan emisi sesuai Paris Agreement, termasuk mencapai target net zero emission (NZE) pada 2060.

Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil di tengah perubahan komitmen sejumlah negara terhadap Paris Agreement. Secara resmi, Amerika Serikat saat ini bukan lagi pihak dalam Paris Agreement setelah keputusan penarikannya berlaku pada 27 Januari 2026.

Bahlil menilai komitmen global terhadap transisi energi dari energi fosil menuju energi baru terbarukan (EBT) belum sepenuhnya konsisten.

“Hampir semua dunia itu berbicara tentang transisi energi dari fosil menuju kepada energi baru terbarukan. Tetapi harus saya jujur mengatakan bahwa dunia juga sepenuhnya belum konsisten pada keputusan konsensus Paris Agreement itu,” kata Bahlil dalam acara MKI Electricity Connect 2026, Selasa (22/9/2026).

Menurut Bahlil, transisi energi bukan perkara mudah karena membutuhkan investasi yang besar. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan bagi negara-negara yang berupaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.

“Dan kita tahu bahwa untuk melakukan transisi energi dengan energi baru terbarukan, itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, biayanya cukup besar,” ujar Bahlil.

Meski demikian, Bahlil memastikan Indonesia tetap menjalankan agenda transisi energi. Komitmen tersebut antara lain tercermin dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.

Dalam RUPTL tersebut, Indonesia memprogramkan pembangunan kapasitas pembangkit listrik sebesar 69,5 gigawatt (GW) untuk memenuhi kebutuhan listrik domestik.

“Dari 69,5 gigawatt itu, 70% adalah harus memakai bauran energi baru terbarukan. Dan untuk jaringannya kurang lebih sekitar 48.000 kilometer,” kata dia.

Target NZE Indonesia pada 2060 atau lebih cepat juga tercantum dalam Second Nationally Determined Contribution (Second NDC) Indonesia yang telah disampaikan kepada UNFCCC. Dokumen tersebut menyebut target NZE 2060 atau lebih cepat tetap dipertahankan sebagai bagian dari arah kebijakan iklim Indonesia.

Sementara itu, Kementerian ESDM sebelumnya menyebut RUPTL PLN 2025-2034 menjadi salah satu fondasi penting dalam upaya Indonesia mencapai target NZE 2060.

SUMBER: CNBC INDONESIA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *