Dari Warisan ke Nilai Ekonomi, BI Dorong Budaya Melayu Jadi Industri Kreatif Kepri

Ia menyebut persentase UMKM yang naik kelas meningkat dari 30,21 persen menjadi 35,46 persen pada 2025.

“Penyaluran pembiayaan UMKM yang melampaui target akan memberikan multiplier effect bagi perekonomian Kepri,” kata Misni.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, GMP bukan sekadar agenda promosi budaya, tetapi juga dapat menjadi ruang bertemunya pelaku usaha, konsumen, perbankan, pemerintah dan mitra bisnis.

Karena itu, masyarakat diajak memanfaatkan rangkaian kegiatan GMP 2026 untuk memperluas jejaring sekaligus membuka peluang transaksi dan kemitraan usaha.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Kepri, Rony Widijarto Purubaskoro, mengatakan UMKM memiliki posisi penting dalam struktur ekonomi daerah, terutama karena kemampuannya menyerap tenaga kerja di tengah perkembangan industri manufaktur di Kepri.

GMP 2026, menurut Rony, menjadi salah satu sarana untuk menghubungkan kekayaan budaya Melayu dengan kebutuhan industri kreatif modern.

Produk seperti kain tenun dan songket didorong tidak berhenti sebagai produk tradisional, tetapi dikembangkan melalui desain dan inovasi agar memiliki daya saing ekonomi.

“Warisan budaya Melayu tidak boleh hanya dipelihara secara pasif, tetapi harus diolah menjadi industri kreatif yang menciptakan nilai tambah tinggi,” tutur Rony.

Rantai ekonomi tersebut melibatkan banyak sektor, mulai dari penenun, penjahit, desainer lokal, pelaku UMKM hingga sektor perdagangan dan pariwisata.

Dengan pendekatan tersebut, pelestarian budaya sekaligus membuka peluang penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan masyarakat.

GMP 2026 diikuti pelaku usaha dari tujuh kabupaten/kota di Provinsi Kepri. Berbagai agenda disiapkan untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan konsumen maupun calon mitra bisnis.

Kegiatan berlangsung pada 14–20 September 2026 di K-Square Mall Batam. Rangkaian kegiatan meliputi expo, fashion show, talkshow, business matching, workshop, kompetisi, charity run, festival kuliner Nusantara hingga live music performance.

Melalui kegiatan tersebut, BI Kepri mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi yang mempertemukan UMKM, ekonomi kreatif, industri, perbankan, pemerintah daerah dan masyarakat.

Targetnya bukan hanya meningkatkan visibilitas produk lokal, tetapi juga memperluas transaksi, memperkuat akses pembiayaan dan membuka peluang pasar yang lebih besar.

Penguatan warisan Melayu pun diarahkan menjadi bagian dari strategi menciptakan nilai tambah ekonomi Kepri secara berkelanjutan.

Dengan demikian, budaya tidak hanya menjadi kekayaan yang diwariskan antargenerasi, tetapi juga dapat menjadi modal ekonomi bagi masyarakat Kepri.(Iman)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *