Kepri Alami Inflasi 0,38 Persen pada Mei 2026, Sektor Pangan Dominasi Kenaikan Harga

Komoditas Cabai
Komoditas Cabai

Bank Indonesia menilai koordinasi antara Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) tingkat provinsi maupun kabupaten/kota tetap berjalan optimal di tengah berlanjutnya pertumbuhan ekonomi Kepri.

Melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), berbagai langkah stabilisasi harga telah dilakukan sepanjang Mei 2026.

Upaya tersebut meliputi pelaksanaan High Level Meeting (HLM) TPID, sosialisasi dan edukasi inflasi kepada masyarakat, operasi pasar dan pasar murah di sejumlah daerah, serta penguatan kapasitas kelembagaan TPID.

Memasuki Juni 2026, Bank Indonesia mengingatkan adanya sejumlah risiko inflasi yang perlu diwaspadai. Di antaranya potensi dampak El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat yang diperkirakan berlangsung hingga semester II 2026, kenaikan harga energi global yang dapat memengaruhi biaya transportasi dan logistik, serta berakhirnya musim panen yang berpotensi mengerek harga komoditas pangan.

Meski demikian, Bank Indonesia optimistis inflasi Kepri tetap dapat dikendalikan melalui penguatan produksi pangan, pelaksanaan pasar murah, penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD), serta koordinasi yang lebih erat antara pemerintah daerah dan TPID.

“Bank Indonesia bersama TPID akan terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi guna menjaga stabilitas harga dan memastikan inflasi Kepri pada akhir tahun 2026 tetap berada dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen,” ujar Rony. (***)

Sementara itu, secara tahunan (year on year/yoy), inflasi Kepri tercatat sebesar 3,92 persen, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 3,06 persen. Angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang sebesar 3,08 persen.

Di tingkat regional Sumatera, inflasi Kepri menempati posisi keempat tertinggi setelah Aceh (5,12 persen), Sumatera Utara (4,35 persen), dan Riau (3,95 persen).

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony P Widijarto, menjelaskan bahwa tekanan inflasi pada Mei 2026 terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 1,27 persen dengan andil 0,37 persen terhadap inflasi bulanan.

Kenaikan harga sejumlah komoditas hortikultura seperti cabai merah, tomat, sawi hijau, dan ketimun menjadi faktor utama pendorong inflasi. Kondisi tersebut dipengaruhi berakhirnya masa panen raya di sejumlah daerah pemasok di wilayah Sumatera bagian utara.

Selain itu, kelompok transportasi juga mengalami inflasi sebesar 0,25 persen dengan andil 0,03 persen. Kenaikan ini dipicu dampak rambatan meningkatnya harga energi global yang berpengaruh terhadap penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.

Di sisi lain, laju inflasi yang lebih tinggi berhasil tertahan oleh kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mengalami deflasi sebesar 1,35 persen. Penurunan harga emas perhiasan sejalan dengan koreksi harga emas global menjadi faktor utama penahan tekanan inflasi pada bulan tersebut.

Bank Indonesia menilai koordinasi antara Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) tingkat provinsi maupun kabupaten/kota tetap berjalan optimal di tengah berlanjutnya pertumbuhan ekonomi Kepri.

Melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), berbagai langkah stabilisasi harga telah dilakukan sepanjang Mei 2026.

Upaya tersebut meliputi pelaksanaan High Level Meeting (HLM) TPID, sosialisasi dan edukasi inflasi kepada masyarakat, operasi pasar dan pasar murah di sejumlah daerah, serta penguatan kapasitas kelembagaan TPID.

Memasuki Juni 2026, Bank Indonesia mengingatkan adanya sejumlah risiko inflasi yang perlu diwaspadai. Di antaranya potensi dampak El Nino dengan intensitas lemah hingga moderat yang diperkirakan berlangsung hingga semester II 2026, kenaikan harga energi global yang dapat memengaruhi biaya transportasi dan logistik, serta berakhirnya musim panen yang berpotensi mengerek harga komoditas pangan.

Meski demikian, Bank Indonesia optimistis inflasi Kepri tetap dapat dikendalikan melalui penguatan produksi pangan, pelaksanaan pasar murah, penguatan Kerja Sama Antar Daerah (KAD), serta koordinasi yang lebih erat antara pemerintah daerah dan TPID.

“Bank Indonesia bersama TPID akan terus memperkuat sinergi pengendalian inflasi guna menjaga stabilitas harga dan memastikan inflasi Kepri pada akhir tahun 2026 tetap berada dalam rentang sasaran nasional sebesar 2,5±1 persen,” ujar Rony. (***)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *