Monumen Tugu Bahasa di Pulau Penyengat Didorong Jadi Pusat Literasi dan Edukasi Budaya

“Dampak ekonomi melalui wisata budaya tentu sangat baik bagi masyarakat. Namun aspek edukasi harus tetap menjadi nyawa utama di kawasan ini,” tegasnya.

Berdasarkan rencana pengembangan kawasan Pulau Penyengat, proyek tersebut juga akan dilengkapi dengan fasilitas museum. DPK Kepri berharap museum nantinya menyediakan ruang baca atau ruang literasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat maupun wisatawan.

Selain menghadirkan koleksi buku, Bisri juga mengusulkan konsep edukasi modern melalui pemanfaatan teknologi digital. Salah satunya dengan menghadirkan tayangan video dokumenter yang menjelaskan secara kronologis sejarah perkembangan bahasa Melayu hingga menjadi Bahasa Indonesia.

Menurutnya, perpaduan antara teknologi digital dan koleksi buku fisik akan menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik bagi pengunjung.

“Fasilitas digital itu harus bersanding dengan ketersediaan buku-buku bacaan yang memadai. Dengan begitu, museum tidak hanya menjadi tempat melihat sejarah, tetapi juga mampu menumbuhkan gairah literasi masyarakat,” pungkasnya.

Pembangunan Monumen Tugu Bahasa di Pulau Penyengat diharapkan menjadi simbol pelestarian warisan budaya Melayu sekaligus pusat edukasi bahasa dan literasi yang mampu memperkuat identitas budaya Kepulauan Riau di tingkat nasional maupun internasional. (Iman )

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *