Suahasil Nazara dan Ujian Menjaga Kepercayaan di Kementerian Keuangan

Oleh: Ilham Mendrofa

PUTARBALIK.ID, Siang tadi saya sebenarnya menduga menteri lain yang akan terkena reshuffle. Persoalan kebakaran hutan yang belum benar-benar selesai atau kejadian OTT di kementerian/lembaga yang mengurus hak guna bangunan (HGB) yang masih sumir. Ternyata dugaan saya meleset.

Bacaan Lainnya

Yang diganti justru Purbaya Yudhi Sadewa. Saya terdiam cukup lama membaca kabar itu. Purbaya adalah ekonom yang oleh berbagai kelakar politik belakangan digambarkan sebagai lelaki “paling berbahaya” dalam urusan fiskal: bicara lugas, gemar mengutak-atik angka, terkadang meledakkan perdebatan, dan hampir selalu mempunyai argumen ketika berbicara tentang kas negara.

Siang itu, ketika sebuah telepon membuatnya meninggalkan rapat di kompleks parlemen, satu babak di Lapangan Banteng rupanya sedang ditutup.

Beberapa jam kemudian, Profesor Suahasil Nazara memasuki Lapangan Banteng dengan status yang berbeda. Gedungnya sama. Lorongnya sama. Sebagian besar orang yang menyambutnya pun adalah mereka yang telah bertahun-tahun bekerja bersamanya.

Tetapi Republik mempunyai cara sendiri mengubah makna sebuah tempat. Selama hampir tujuh tahun Suahasil berada satu tingkat di bawah kursi tertinggi Kementerian Keuangan, menjadi Wakil Menteri sejak 2019, mendampingi Sri Mulyani, kemudian berada dalam pemerintahan Presiden Prabowo. Kini orang nomor dua itu menjadi orang pertama.

“Saya berterima kasih sekali kepada Republik Indonesia melalui Bapak Presiden Prabowo atas arahan untuk menyelesaikan Kabinet Merah Putih 2024–2029 sebagai Menteri Keuangan,” katanya di hadapan pegawai kementerian.

Lalu ia berbicara dengan nada seseorang yang sudah mengenal rumah itu: “Saya tidak mau bilang kalian kenal saya, tapi saya yakin Anda mengerti tugas Anda. Betul?”

Kemudian sampailah ia pada dua kata yang menurut saya akan menentukan seluruh masa jabatannya: kredibel dan dipercaya.

Dalam ekonomi, trust sulit dimasukkan sebagai satu baris dalam APBN. Tetapi tanpa kepercayaan, hampir seluruh angka di dalamnya kehilangan sebagian makna.

Kepercayaan memengaruhi risiko, risiko menentukan biaya uang, biaya uang mempersempit atau memperluas ruang fiskal. Pada akhirnya, ia menentukan kemampuan negara membangun sekolah, rumah sakit, jalan, menciptakan pekerjaan, dan melindungi mereka yang tertinggal.

Mendengar Suahasil sore tadi, saya justru teringat sebuah kejadian sekitar dua bulan lalu.

Menjelang berakhirnya suatu rapat Dewan Komisaris PLN, Suahasil menghampiri ruang kerja Bang Andi Arief. Keduanya ketika itu sama-sama berada di jajaran komisaris PLN. Dalam perjumpaan tersebut, Bang Andi kemudian bercerita kepada saya, Suahasil berbagi kegelisahan mengenai ekonomi dan pengelolaan keuangan negara.

Ada satu fragmen kecil yang melekat dalam ingatan saya. Suahasil menitipkan salam kepada Pak SBY. Sambil bercanda, ia meminta Bang Andi menyampaikan bahwa dirinya juga seorang ekonom yang pernah masuk dalam tim Pak Chairul Tanjung—Pak CT.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *