Penurunan BOR menunjukkan aktivitas sandar kapal semakin optimal dan antrean di dermaga dapat dikurangi sehingga proses logistik berlangsung lebih lancar.
Kapasitas Naik 900 Ribu TEUs
Modernisasi TPK Batu Ampar juga dibarengi dengan peningkatan kapasitas infrastruktur. Saat ini, terminal tersebut telah mengoperasikan lima unit STS Crane serta memperluas lapangan penumpukan peti kemas menjadi 12 hektare.
Pengembangan tersebut mendorong kapasitas throughput peti kemas dari sebelumnya sekitar 350.000 TEUs menjadi 900.000 TEUs.
Menurut Benny, peningkatan kapasitas tersebut menjadi bagian dari langkah strategis untuk menjadikan Batu Ampar sebagai salah satu simpul logistik penting di kawasan regional.
“Pengembangan ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk menjadikan TPK Batu Ampar sebagai terminal peti kemas berstandar global. Dengan tambahan enam STS Crane pada tahap pengembangan berikutnya, kapasitas operasional ditargetkan dapat mencapai 2 juta TEUs,” ujarnya.
BP Batam tidak berhenti pada capaian kapasitas 900.000 TEUs. Pengembangan tahap ketiga TPK Batu Ampar direncanakan dimulai pada 2028 melalui skema Kerja Sama Pemanfaatan Dalam Rangka Penyediaan Infrastruktur (KSP DRPI) bersama PT Batam Terminal Petikemas (BTP).
Dalam pengembangan tersebut, TPK Batu Ampar direncanakan mendapat tambahan enam unit STS Crane jenis Panamax.
Penambahan peralatan bongkar muat itu ditargetkan meningkatkan kapasitas operasional terminal hingga mencapai 2 juta TEUs.
Langkah tersebut dinilai strategis untuk mengantisipasi pertumbuhan arus barang sekaligus memperkuat posisi Batam sebagai pusat logistik dan perdagangan di jalur Selat Malaka.
Bagi dunia usaha, peningkatan kapasitas pelabuhan dan kecepatan layanan menjadi faktor penting dalam menjaga efisiensi distribusi barang. Semakin singkat waktu kapal berada di pelabuhan, semakin besar peluang penurunan biaya dan waktu dalam rantai pasok.
Benny menegaskan pengembangan TPK Batu Ampar juga diarahkan untuk mendukung konektivitas perdagangan internasional melalui layanan direct call.
“Peningkatan kapasitas dan produktivitas pelabuhan akan memperkuat konektivitas logistik, mendukung direct call internasional, serta diharapkan memberikan kontribusi terhadap efisiensi dan penurunan biaya logistik nasional,” katanya.
Dengan posisi geografis Batam yang berada di kawasan strategis Selat Malaka dan berdekatan dengan pusat perdagangan regional, penguatan TPK Batu Ampar dinilai memiliki nilai ekonomi yang lebih luas.
Transformasi pelabuhan tersebut diharapkan mampu memperkuat ekosistem industri Batam, meningkatkan daya saing investasi, memperlancar arus ekspor-impor, sekaligus menjadikan Batam semakin kompetitif sebagai hub logistik internasional. (Iman Suryanto)





