BI Perkuat Pengendalian Inflasi Pangan di Tengah Ancaman Harga Minyak

PUTARBALIK.ID, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) mewaspadai tekanan inflasi ke depan yang bersumber dari kenaikan harga pangan dan minyak. Kedua komponen tersebut dinilai menjadi tantangan utama yang dapat memengaruhi inflasi, di tengah kondisi inflasi inti yang masih relatif stabil.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan inflasi inti masih berada dalam kondisi terkendali. Kondisi tersebut sejalan dengan aktivitas ekonomi Indonesia yang dinilai masih bergerak di bawah level potensialnya.

Bacaan Lainnya

Menurut Destry, kondisi tersebut membuat tekanan inflasi yang bersumber dari aktivitas ekonomi atau inflasi inti masih relatif dapat dikendalikan meskipun pertumbuhan ekonomi terus berlanjut.

Namun, perhatian BI saat ini lebih tertuju pada inflasi pangan bergejolak atau volatile food inflation. Destry menyebut harga pangan dan minyak menjadi dua tantangan utama inflasi global yang juga perlu diwaspadai Indonesia.

“Tapi memang concern itu adalah volatile food inflation,” ujar Destry saat melakukan rapat kerja dengan DPD RI, Senin (14/9/2026).

Harga Pangan dan Minyak Jadi Perhatian Global

Destry mengatakan dalam sejumlah pertemuan internasional, termasuk BRICS dan Basel, harga minyak dan pangan turut menjadi perhatian karena berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi global.

“Disampaikan, tantangan utama global itu adalah dua, harga minyak dan pangan. Nah ini yang menjadi tantangan kita semua,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi tekanan dari sektor pangan, BI bersama pemerintah menjalankan berbagai program pengendalian inflasi. Salah satunya melalui Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Strategis (GTIPS).

Destry mengatakan program tersebut dijalankan bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, pemerintah daerah, serta berbagai lembaga di daerah.

Sejumlah langkah dilakukan untuk menjaga stabilitas harga pangan, mulai dari kerja sama antardaerah, fasilitasi distribusi pangan, pelaksanaan pasar murah, hingga penguatan cadangan pangan.

“Dan koordinasi yang terus kita perkuat. Dan ini alhamdulillah gerakannya masih jalan terus, sehingga volatile food inflation masih bisa kami kendalikan di bawah 5%,” kata Destry.

Sejumlah Daerah Masih Catat Inflasi Tinggi

Meski demikian, Destry mengakui masih terdapat sejumlah daerah yang mencatat inflasi di atas sasaran. Ia menyebut daerah-daerah tersebut sebagai wilayah yang perlu mendapat perhatian dalam pengendalian inflasi.

“Kalau kita lihat yang di peta sebelah kiri, ini adalah daerah-daerah merah, itu adalah daerah-daerah yang inflasi mereka itu di atas inflasi 3,5% yang menjadi target kami,” pungkasnya.

SUMBER: KONTAN

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *