Pertamina Patra Niaga Dukung KWT di Batam, 18 Ibu Rumah Tangga Menanam Ketahanan Pangan

PUTARBALIK.ID, BATAM — Di sebuah sudut sederhana di Batam, tangan-tangan yang biasanya sibuk mengaduk bumbu dapur kini sibuk menggemburkan tanah. Tak ada yang menyangka, dari pekarangan kecil itu bisa menghasilkan sesuatu.

Kelompok Wanita Tani (KWT) yang berdiri pada 12 Januari 2021 itu hanya beranggotakan 18 ibu rumah tangga. Awalnya, mereka hanya ingin membuat kegiatan yang “ada gunanya”.

Bacaan Lainnya

“Agar bisa bantu dapur,” kata Kartini, Ketua kelompok KWT Kampung Tani Berdikari, Nongsa, Batam saat ditemui awak media bersama rombongan Pertamina Patra Niaga pada Senin (14/9/2026) pagi.

Namun, di tengah tekanan harga pangan yang terus naik di Kepulauan Riau, langkah kecil itu menjelma menjadi bagian dari solusi ekonomi.

Dalam waktu 25 hari, mereka memanen hasil pertama. 26 kilogram sayur kangkung. Angka yang mungkin kecil bagi industri besar, tetapi sangat berarti bagi ekonomi rumah tangga. Sebagian dijual, sebagian dikonsumsi sendiri, sebagian dibagikan. Lebih dari itu, hasil panen mereka bahkan sudah dipesan warga sekitar sebelum dipetik.

Kisah ini menjadi relevan ketika melihat kondisi ekonomi makro Kepulauan Riau (Kepri).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS)inflasi Kepri pada Agustus 2026 mencapai 3,87% secara tahunan, dengan Batam bahkan menyentuh sekitar 4,03%. Tekanan harga ini banyak dipicu oleh komoditas kebutuhan pokok, terutama pangan—yang selama ini masih bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Bank Indonesia juga mencatat, inflasi di Kepri masih menjadi tantangan utama, terutama karena tingginya permintaan pangan dan keterbatasan produksi lokal.

Di sinilah peran kelompok seperti kelompok KWT Kampung Tani Berdikari, Nongsa, Batam menjadi penting. Apa yang mereka lakukan bukan sekadar berkebun, tetapi menciptakan ketahanan pangan skala mikro yang dalam jangka panjang bisa membantu meredam gejolak harga.

Awalnya hanya untuk konsumsi sendiri. Kini mulai bergerak ke arah ekonomi produktif. Mereka mencoba komoditas lain seperti pokcai, meski hasil awalnya baru sekitar 3 kilogram. Namun arah geraknya jelas: produksi berkelanjutan.

Di banyak daerah, model seperti ini dikenal sebagai strategi urban farming, yang mampu mengurangi ketergantungan pasokan luar, menekan biaya konsumsi rumah tangga, serta menciptakan tambahan pendapatan.

Dalam konteks Kepri, yang merupakan wilayah kepulauan dengan biaya logistik tinggi, langkah ini menjadi semakin strategis.

Di balik perjalanan ini, ada peran penting dari Pertamina Patra Niaga. Bantuan yang diberikan bukan sekadar simbolis. Peralatan, pelatihan, hingga pendampingan menjadi fondasi awal kelompok ini bertahan.

“Kalau tidak ada Pertamina, mungkin kami tidak bisa sampai di sini,” ujar Marsih, pengurus kelompok KWT Kampung Tani Berdikari, Nongsa, Batam menimpali.

Dukungan ini mencerminkan pergeseran peran korporasi dari sekadar bisnis energi menjadi bagian dari ekosistem pemberdayaan ekonomi lokal.

Di tengah angka inflasi, grafik ekonomi, dan laporan statistik, kisah 18 ibu ini menghadirkan wajah lain dari ekonomi yang hidup, yang nyata, dan yang tumbuh dari bawah. Mereka mungkin tidak berbicara tentang indeks harga konsumen.

Namun setiap kali mereka memanen, mereka sebenarnya sedang mengurangi tekanan belanja rumah tangga, menjaga stabilitas pangan keluarga dan secara kecil, ikut menahan laju inflasi.

Dari pekarangan sederhana itu, mereka menanam lebih dari sekadar sayur. Namun mereka menanam ketahanan ekonomi.

Dan di tengah dinamika ekonomi Kepulauan Riau yang terus bergerak, mungkin justru dari tangan-tangan inilah stabilitas itu perlahan dijaga. (Iman Suryanto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *