Selain faktor pangan, kenaikan harga BBM non subsidi turut memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi. Seiring dengan meningkatnya harga minyak mentah dunia, sejumlah produk BBM seperti Pertamax Turbo, Pertamina Dex dan Dexlite mengalami penyesuaian harga sepanjang Mei 2026.
Kenaikan biaya energi tersebut berpotensi memicu efek berantai terhadap berbagai sektor, mulai dari transportasi hingga distribusi barang dan jasa, yang pada akhirnya mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing juga menjadi faktor yang memperkuat tekanan inflasi. Fenomena ini dikenal sebagai imported inflation, yakni kenaikan harga barang akibat meningkatnya biaya impor bahan baku maupun produk jadi dari luar negeri.
Juniman memperkirakan inflasi inti atau core inflation pada Mei 2026 meningkat menjadi 2,53 persen yoy dari sebelumnya 2,44 persen yoy pada April 2026.
“Core inflasinya juga naik karena ada imported inflation, sehingga ke level 2,53 persen dari sebelumnya masih berada di sekitar 2,4 persen,” jelasnya.
Meski demikian, terdapat satu komoditas yang justru memberikan kontribusi menahan laju inflasi. Penurunan harga emas dunia selama Mei 2026 menyebabkan harga emas dan perhiasan di dalam negeri ikut mengalami koreksi, sehingga membantu meredam tekanan inflasi yang lebih besar.
Pandangan serupa disampaikan Ekonom Bank Danamon Indonesia, Hosianna Evalita Situmorang. Ia memperkirakan inflasi Mei 2026 secara bulanan mencapai 0,25 persen mtm dengan inflasi tahunan sekitar 3,05 persen yoy.
Sementara inflasi inti diperkirakan relatif stabil di kisaran 2,50 persen yoy.
Menurut Hosianna, kondisi tersebut menunjukkan bahwa sumber utama kenaikan inflasi saat ini bukan berasal dari tingginya konsumsi masyarakat, melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh perkembangan harga komoditas global dan sektor energi.




