Ekonom Waspadai Kenaikan Inflasi Mei 2026, Harga Pangan dan Energi Jadi Ancaman

“Ini menunjukkan bahwa kenaikan inflasi masih lebih didorong oleh tekanan harga komoditas dan energi global dibandingkan lonjakan permintaan domestik,” ujarnya.

Analisis tersebut mengindikasikan bahwa daya beli masyarakat sebenarnya belum mengalami peningkatan yang signifikan. Dengan kata lain, tekanan inflasi yang terjadi saat ini lebih bersifat cost-push inflation atau inflasi akibat kenaikan biaya produksi dan distribusi.

Kondisi ini menjadi perhatian penting bagi otoritas moneter karena ruang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan konsumsi masyarakat masih relatif terbatas.

Sementara itu, Kepala Ekonom BCA, David Sumual, memperkirakan inflasi tahunan Mei 2026 berada di level 2,93 persen yoy dengan inflasi bulanan sekitar 0,13 persen mtm.

David menilai kenaikan inflasi tahunan tidak hanya dipicu oleh kenaikan harga saat ini, tetapi juga dipengaruhi efek basis rendah (low base effect) pada periode yang sama tahun lalu.

“Inflasi tahunan tinggi karena ada efek low base di Mei lalu di mana harga bahan pangan turun signifikan,” ungkap David.

Menurutnya, secara bulanan kenaikan harga pangan sebenarnya masih tergolong terbatas. Komoditas cabai menjadi salah satu penyumbang utama inflasi bahan makanan pada Mei 2026.

Di sisi lain, inflasi inti masih menunjukkan pergerakan yang relatif moderat. Penurunan harga emas disebut menjadi salah satu faktor yang membantu menahan kenaikan inflasi inti agar tidak bergerak lebih tinggi.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *