Keduanya dinilai mengedepankan pendekatan yang tidak hanya bertumpu pada pekerjaan administratif dari balik meja, tetapi juga dengan melihat langsung kondisi di lapangan.
Amsakar kerap menekankan pentingnya memastikan pekerjaan pembangunan memberikan manfaat nyata. Sementara Li Claudia membawa pendekatan yang memadukan ketegasan terhadap aturan dengan komunikasi langsung bersama masyarakat.
Sebagai perempuan pertama yang memimpin Batam bersama Kepala BP Batam, Li Claudia juga disebut aktif turun melihat kondisi infrastruktur serta mendengarkan aspirasi masyarakat.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena pembangunan kota tidak hanya berkaitan dengan kepentingan dunia usaha, tetapi juga menyentuh kehidupan masyarakat sehari-hari.
“Kami ingin Batam menjadi tempat yang memberikan kepastian untuk tumbuh, ruang bagi dunia usaha untuk berkembang, sekaligus menciptakan manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat,” ujar Li Claudia.
Kepastian tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam persaingan memperebutkan investasi, terutama ketika kota-kota di kawasan regional maupun negara lain sama-sama berupaya menawarkan kemudahan dan daya saing kepada investor.
Dari Manufaktur hingga Ekonomi Digital
Dengan posisi strategisnya, Batam kini tidak lagi hanya mengandalkan sektor manufaktur konvensional. Ekosistem ekonomi yang dikembangkan semakin beragam, mulai dari manufaktur berteknologi tinggi, digital, pusat data, artificial intelligence, energi, logistik internasional, kedirgantaraan, perdagangan dan keuangan internasional hingga pariwisata kesehatan.
Diversifikasi tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kualitas investasi sekaligus memperluas basis ekonomi Batam.
Dalam konteks tersebut, infrastruktur menjadi fondasi, konektivitas menjadi pengikat, pelayanan dan kepastian berusaha menjadi penguat, sedangkan investasi menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi.
Tantangannya kini bukan sekadar bagaimana mendatangkan investor baru, tetapi bagaimana membuat investor yang telah masuk merasa memiliki ruang untuk berkembang dan melakukan ekspansi dalam jangka panjang.
Karena itu, keberhasilan Batam tidak cukup diukur dari berapa besar nilai investasi yang diumumkan. Ukuran lainnya adalah seberapa banyak investasi tersebut benar-benar terealisasi, industri berkembang, tenaga kerja terserap dan aktivitas ekonomi masyarakat ikut bergerak.
Capaian investasi Rp38,97 triliun pada semester I-2026 pun belum menjadi garis akhir. Dengan target Rp70 triliun sepanjang tahun, masih terdapat ruang sekitar Rp31,03 triliun yang harus dikejar.
Begitu pula pembangunan jalan. Ruas yang telah selesai bukan sekadar proyek yang dicentang dalam daftar pekerjaan, melainkan bagian dari upaya memperlancar mobilitas ekonomi.
Pada akhirnya, tantangan Batam adalah mengubah kepercayaan menjadi investasi, investasi menjadi industri, industri menjadi lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi menjadi manfaat yang dapat dirasakan masyarakat.
Dengan kombinasi percepatan infrastruktur, peningkatan investasi dan perluasan kesempatan kerja, Batam sedang membangun fondasi untuk mempertahankan posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi Indonesia di kawasan perbatasan.
Batam tidak cukup hanya menjadi kota yang menarik investor. Kota ini dituntut menjadi tempat yang membuat investor ingin tumbuh, berekspansi dan membangun ekosistem usaha dalam jangka panjang.
Di titik itulah pembangunan infrastruktur dan investasi bertemu: bukan sekadar menghasilkan angka pertumbuhan, tetapi menciptakan aktivitas ekonomi yang semakin nyata bagi masyarakat.
Kalau ingin lebih “nendang” untuk portal berita nasional, judul nomor 1, 4, dan 10 paling kuat karena langsung memasukkan kata kunci investasi Batam, Rp38,97 triliun, tenaga kerja, dan infrastruktur. (Iman Suryanto)





