PUTARBALIK.ID, JAKARTA – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) berencana mengembangkan teknologi robotik berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, khususnya dalam tindakan bedah di Indonesia.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan perkembangan teknologi bedah robotik dan AI di dunia berlangsung sangat pesat. Karena itu, pemerintah ingin mengintegrasikan kedua teknologi tersebut agar mampu mendukung pelayanan medis yang lebih akurat dan efisien.
“AI milik Kementerian Kesehatan saat ini berkembang pesat, kecuali dalam hal bedah. Karena bedah itu susah, karena datanya itu belum ada,” ujar Budi.
Menurutnya, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan AI di bidang bedah karena ribuan operasi dilakukan setiap hari di berbagai rumah sakit. Jika seluruh proses operasi dapat direkam dan didokumentasikan secara digital, data tersebut akan menjadi fondasi penting dalam pengembangan teknologi AI.
Budi menjelaskan, saat ini pemerintah tengah membangun tiga basis data nasional yang akan menjadi kekuatan utama pengembangan AI di sektor kesehatan, yakni data demografi penduduk, data klinis nasional yang terintegrasi, serta data genomik.
Melalui regulasi terbaru, seluruh data dari sekitar 3.200 rumah sakit, 25.000 klinik, 12.000 apotek, dan sekitar 6.000 laboratorium akan dihimpun dalam satu sistem berbasis cloud nasional.
Selain itu, jutaan data rontgen, hasil USG, dan berbagai rekam medis lainnya juga mulai dikumpulkan sebagai bahan pembelajaran AI agar mampu memberikan rekomendasi medis yang semakin akurat.
Meski demikian, Budi mengakui tantangan terbesar saat ini adalah integrasi data operasi yang masih tersimpan di sistem milik masing-masing produsen alat kesehatan. Ke depan, pemerintah menargetkan seluruh data operasi dapat terpusat di cloud nasional.
Menurut Budi, AI tidak akan menggantikan peran dokter, melainkan menjadi teknologi pendamping (augmented intelligence) yang membantu tenaga medis mengambil keputusan klinis berdasarkan analisis data dari ribuan tindakan operasi yang telah dipelajari sistem.
“Keputusan tetap berada di tangan dokter. AI hanya memberikan rekomendasi berdasarkan data yang telah dipelajari,” tegasnya.
Dengan semakin lengkapnya data kesehatan nasional, Kemenkes optimistis Indonesia memiliki modal kuat untuk mengembangkan teknologi AI dan robotik medis yang mampu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan sekaligus keselamatan pasien.
SUMBER: BISNIS INDONESIA





